Tanaman Cabai

BUDIDAYA CABAI MERAH

Satu komoditas sayuran yang umumnya digunakan sebagai bumbu masakan yang dikonsumsi dalam bentuk segar.  Namun demikian ada juga yang digunakan sebagai bahan olahan seperti :  saus sambal, cabai bubuk, dan acar.  Kandungan gizi cabai merah umumnya cukup tinggi terutama vitamin dan mineral.  Cabai merah juga mengandung berbagai macam vitamin seperti A, B, C, kalsium, fosfor, lemak dan protein.  Dalam rangka pengembangan cabai merah perlu dilakukan pengaturan pola tanam sesuai dengan permintaan serta pengembangan teknologi maju untuk mendukung peningkatan produktivitas

TEKNIK BUDIDAYA

A.  Penyiapan  Lahan

Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanman sebelumnya, untuk kemudian diolah dan dikeringkan  sampai beberapa hari (7-14 hari).  Selanjutnya dibuat bedengan sebagai media tanam.  Panjang bedengan sekitar 12 m, dengan lebar 110-120 cm, tinggi 40-50 cm.  Antara 2 bedeng dibuat parit untuk memasukan dan mengalirkan air.  Dilanjutkan dengan pemberian pupuk kandang dan kapur pertanian yang dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalikkan, kemudian dikeringanginkan sampai kurang lebih 2 minggu

B.  Pembibitan

  1. Benih direndam dengan air terlebih dahulu, yang terapung dibuang, sebelum disemai biji direndam dalam larutan hipoklorit 10% selama 10 menit.
  2. Media pesemaian adalah campuran tanah dan pupuk kandang (1:1) dan furadan 1 kg/10m2 tanah.  Lalu benih disebar, tempat pesemaian sebaiknya diberikan naungan, dan posisi menghadap ke timur.
  3. Setelah 5 hari bibit berkecambah bibit dipindahkan ke polybag yang telah disiapkan, untuk meningkatkan daya adaptasi dan daya tumbuh saat dipindah ke lapangan.
  4. Penyiraman pesemaian dilakukan secara rutin yaitu 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca dan penyemprotan pupuk daun dosis rendah 0.5gr/l air saat tanaman muda 10-15 hari.
  5. Umur bibit yang baik untuk dipindahkan adalah 5-9

C.  Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Putih (MPHP)

  1. Sebelum pemasangan MPHP perlu dilakukan pemupukan pupuk buatan secara total sekaligus .  Bila panjang bedengan 12 m, jarak tanam 60-70 cm, maka akan berisi 40 tanaman.  Jadi pupuk yang diperlukan sejumlah 4 kg, terdiri dari ZA:Urea:TSP:KCL dengan perbandingan 3:1:2:1.5 dengan catatan setiap 100 kg pupuk campuran tadi ditambahkan 1 kg borate dan 1.5 kg Furadan.  Setelah pupuk disebar rata, diaduk dengan tanah bedengan, lalu siram dengan air secukupnya agar pupuk larut ke lapisan tanah.
  2. Pemasanga MPHP dilakukan saat terik ( pk 14.00-16.00 ) agar plastik tersebut memuai dan memanjang sehingga menutup tanah serapat mungkin.  Biarkan selama 5 hari agar pupuk buatan larut dalam tanah dan tidak membahayakan bibit cabai yang ditanam.

D.  Penanaman

Sehari sebelum tanam bedengan yang telah dituup mulsa plastik dibuat lubang tanam terlebih dahulu dengan jarak tanam 60-70 cm.  Diameter lubang 6-8 cm, bisa dilakukan dengan potongan pipa besi.  Bibit yang paling siap ditanam setelah berumur 17-23 hari atau berdaun 2-4 helai.  Sebelum dipindahtanamkan segera siram dengan air bersih secukupnya, bersama dengan polybagnya direndam dalam larutan fungisida atau bakterisida pada dosis 0.5 -1.0 gr/ltr air selama 15-30 menit. Setelah media tanamnya cukup kering, bibit cabai dikeluarkan dengan hati-hati dan ditanam pada lubang tanam yang tanahnya telah diangkat dulu kira-kira seukuran polybag.

E. Pemeliharaan

  1. Penyiraman: Pada musim kemarau dilakukan rutin setiap hari, setelah tanaman perakaranya kuat , pengairan berikutnya dilakukan dengan cara di leb setiap 3-4 hari sekali.  Atau dengan sistem kocoran melalui selang  yang dialirkan di antara 4 tanaman, ujung selang dimasukan ke dalam lubang MPHP di tengah-tengah bedengan
  2. Pemasangan ajir :  tujuan untuk menopang tanaman sewaktu berbuah lebat, dibuat dari bambu tinggi : 125 cm lebar 4 cm, tebal 2 cm.  Ditancap tegak setiap 3 tanaman secara berjajar.  Dari ajir ke ajir dihubungkan dengan bilah bambu setinggi 80 cm dari permukaan tanah.Pemasangan dilakukan setelah tanaman berumur 1 bln setelah pindah.
  3. Perempelan: Adalah pembuangan tunas samping karena pertumbuhan tunas ini tidak produktif dan akan mengganggu pertumbuhan, dilakukan pada saat cabai berumur 7-20 hari, dilakukan dengan cara membuang semua tunas samping dan dihentikan saat terbentuk cabang ( biasanya dilakukan 2-3 kali). Selanjutnya adalah perempelan terhadap bunga pertama dari sela-sela percabangan pertama.  Tujuannya untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas dan cabang di atasnya yang menghasilkan buah
  4. Pemupukan susulan: Meskipun tanaman cabai sudah dipupuk secara total, namun untuk menyuburkan pertumbuhanyang prima dapat diberi pupuk tambahan (sususlan), yaitu pada saat fase pertumbuhan vegetatif aktif (daun dan tunas) adala pupuk daun yang kandungan N-nya tinggi, misalnya Multimicro dan Comlesal cair. Interval penyemprotan pupuk dilakukan antara 10 – 14 hari sekali, dengan dosis sesuai pada labelnya.Untuk memacu pertumbuhan bunga dan buah, pada umur 50 hari dapat diberi pupuk susulan berupa NPK atau campuran ZA, Urea, TSP dan KCL dengan perbandingan (1:1:1:1) sebanyak + 4 sendok makan. Caranya dengan melubangi MPHP di antara 4 tanaman. Pupuk tersebut dimasukkan ke dalam tanah dan langsung disiram air bersih agar cepat larut. Pemupukan selanjutnya dilakukan apabila kondisi pertumbuhan tanaman cabai kurang memuaskan atau karena terserang hama penyakit dengan dosis NPK sebanyak 4 – 5 kg dilarutkan dalam 200 lt air (1 drum) lalu dikocorkan pada setiap tanaman sebanyak 300 – 500 cc atau tergantung kebutuhan.

Lakukan 2 minggu sekali. Varietas cabai hibrida umumnya bisa berbuah cukup lama, sehingga dapat dipanen 12 – 14 kali. Setiap kali selesai panen perlu diberi pupuk susulan untuk mempertahankan produktivitas buahnya. Jenis pupuknya adalah NPK atau campuran ZA,Urea, TSP, KCl dengan perbandingan 1 : 1 : 1 : 1. Pada kondisi pertumbuhan tanaman cabai cukup bagus, pemberian pupuk susulan ini cukup sebulan sekali.

F.   Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman

Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan memberikan fungisida, insektisida dengan cara penyemprotan secara teratur.  Usaha lain adalah menyiangi kemungkinan adanya gulma serta pengawasan secara rutin dan berkala terhadap tanaman, sehingga ketika gejala hama dan penyakit dapat sedini mungkin teratasi.

G.  Panen dan Pascapanen

Tanaman cabai merah keriting di dataran rendah sudah dapat dipanen pertama kali pada umur 70 – 75 hari setelah tanam. Sedangkan waktu panen pertama untuk cabai di dataran tinggi lebih lambat yaitu mulai umur sekitar 4 – 5 bulan setelah tanam.  Pemanenan berikutnya dapat dilakukan 3 – 4 hari sekali atau paling lambat seminggu sekali. Selanjutnya dapat terus menerus dilakukan sampai usia tanaman 6 – 7 bulan tergantung keadaan tanaman di lapangan.

Bahan Bacaan

Ir. Sutrisno, 2003 Pedoman umum budidaya cabai merah, Direktorat jenderal Bina Produksi Hortikultura.  Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan aneka tanaman. Jakarta.

Anonimus,2001. LembagaSumberdaya Informasi IPB.  Budidaya Cabai Merah. http://www.smecda.com/ukm/new/menu/cabai_merah/budidaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s